Pengertian Protista, Ciri, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan

Pengertian Protista, Ciri, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan

Assalammualaikum, selamat pagi dan selamat datang di situs mata pelajaran onlien Buku IPA. Berikut ini Guru IPA akan membahas mata pelajaran Biologi tentang “Kingdom Protista“. Berikut pembahasaan materi pelajarannya, sebagai berikut:

Pengertian Protista, Ciri, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan

Pengertian Protista

Pada umumnya Protista adalah mahluk hidup uniseluler, namun terdapat pula Protista yang multiseluler, seperti ganggang laut. Protista ada yang bersifat autrotrof, adapula yang heterotrof, hidup bebas di laut, air tawar, atau sebagai parasit pada mahluk hidup lain. Berbeda dengan Monera, Protista telah memiliki membrane inti sehingga disebut organisme eukariotik.


Ciri-Ciri Umum Protista

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri umum protista, antara lain sebagai berikut:

  1. Bersifat eukariotik sederhana, yaitu memiliki membran inti terikat dan endomembran sistem
  2. Respirasi secara aerobik yaitu membutuhkan oksigen untuk menghasilkan energi.
  3. Memiliki mitokondria untuk respirasi sel dan beberapa memiliki kloroplas untuk fotosintesis.
  4. Sebagian besar bersifat uniseluler, beberapa membentuk koloni. Ada juga yang multi seluler, terdiri dari banyak sel. Protista multiseluler memiliki tubuh yang sederhana tanpa jaringan terspesialisasi.
  5. Ada yang bereproduksi secara aseksual dan ada yang secara seksual.
  6. Sebagian protista hidup bebas, tetapi ada juga yang bersimbiosis dengan organisme lain
  7. Sebagian besar protista hidup di air, beberapa di tanah lembab atau bahkan tubuh manusia dan tanaman.

Ciri-Ciri Protista

Protista dikelompokan menjadi tiga kelompok, antara lain sebagai berikut:


1. Protista Mirip Jamur (Jamur Lendir)

Protista mirip jamur disebut juga jamur lender. Protista ini dikatakan mirip jamur karena kemiripannya dalam hal morfologi dan sifatnya, yang saprofit. Perbedaannya dengan jamur terletak pada susunan sel, cara reproduksi, dan siklus hidupnya. Pada jamur, zigotnya tidak dapat bergerak (imotil) karena tidak memliki flagela. Adapun pada jamur lendir, zigotnya dapat bergerak (motil) karena memiliki flagel.

Protista mirip jamur terdiri atas tiga filum, yakni Myxomycota, Acrasiomycota, dan Oomycota (Abdurahman, 2006).


  • Myxomycota

Filum Myxomycota terdiri atas jamur lendir. Anggota Myxomycota biasanya memiliki pigmen kuning atau oranye dan bersifat heterotrof. Myxomycota memiliki fase ameobid, berinti banyak, dan tidak dibatasi dinding kuat yang disebut plasmodium yang dapat dijumpai dalam siklus hidupnya. Plasmodium  dapat bergerak seperti amoeba di atas substrat dan mencerna makanan secara fagositosis, menelan partikel atau sel secara langsung. Contoh spesies Myxomycota adalah Physarium sp. Perhatikan Gambar 1.

Myxomycota

Gambar 1:Jamur dari filum Myxomycota merupakan bentuk spongarium                                  jamur lender (Abdurahman, 2006)


  • Acrasiomycota

Acrasiomycota berbeda dengan Myxomycota. Acrasiomycota tetap mempertahankan identitasnya sebagai satu sel. Acrasiomycota merupakan individu utuh yang dipisahkan oleh membran, terutama pada saat membentuk agregat di salah satu tahap siklus hidupnya. Acrasiomycota merupakan organisme haploid, sedangkan pada Myxomycota didominasi oleh fase diploid. Acrasiomycota memiliki tubuh buah yang berfungsi sebagai alat reproduksi aseksual dan umumnya tidak memiliki fase berflagel. Perhatikan Gambar 2.

Acrasiomycota

            Gambar 2: Dictyostelium merupakan contoh spesies dari phylum                                                            Acrasiomycota (Abdurahman, 2006)


  • Oomycota

Oomycota dikenal sebagai jamur air (water molds), karat putih ( white rust), dan jamur berbulu halus (downy mildew). Organisme ini terdiri atas hifa (filamen atau benang halus yang membentuk bagian vegetatif jamur) yang terlihat seperti jamur pada umumnya. Oomycota memiliki dinding sel yang terbuat dari selulosa. Pada umumnya, jamur air merupakan pengurai yang tumbuh pada alga atau hewan mati. Beberapa lagi merupakan parasit pada ikan. Contoh jamur air adalah Saprolegnia. Perhatikan Gambar 3.

Oomycota

Gambar 3: Saprolegnia adalah contoh jamur air yang hidup parasit di dalam                             organisme lain (Abdurahman, 2006)


2. Protista Mirip Tumbuhan

Protista mirip tumbuhan uniseluler, sering disebut juga sebagai fitoplankton. Sedangkan Protista mirip tumbuhan multiseluler sering disebut alga. Protista fotosintetik ini tersebar secara luas di lautan dan danau-danau. Walaupun sebagaian termasuk organisme mikroskopik. Organisme ini memiliki peran yang sangat penting. Fitoplankton di lautan menyumbangkan sekitar 70% dari semua aktivitas fotosintesis yang ada di muka bumi ini, yaitu menyerap karbondoksida, mengisi atmosfer dengan oksigen, dan menyokong siklus kehidupan dalam kehidupan air.

Protista mirip tumbuhan, dibagi menjadi 7 filum, yaitu Euglenophyta, Cryshophyta, Bacillariophyta (Diatomae), Pyrrophyta (Dinoflagellata), Rhodophyta, Phacophyta, dan Chlorophyta (Abdurahman, 2006).


  • Euglenophyta

Euglenophyta merupakan organisme uniseluler yang memiliki flagella, vakuola, kontraktil, stigma yang dapat menangkap cahaya, dan kloroplas. Euglenophyta dapat hidup secara autotrof atau heterotrof. Contoh Euglenophyta yang melimpah di alam adalah Euglena. Beberapa jenis Euglena autotrof dapat menjadi heterotrof ketika tingkat cahaya rendah (Abdurahman, 2006).


  • Chrysophyta

Alga cokelat-keemasan memiliki variasi struktur dan bentuk. Sebagaian tidak memiliki dinding sel dan dapat merayap seperti Amoeba. Sebagaian lagi memiliki dinding sel pectin, memiliki dua flagel.

Alga cokelat-keemasan memiliki klorofil a, klorofil b, pigmen karoten, dan pigmen fukosantia yang merupakan sumber warna keemasan. Cryshophyta kebanyakan hidup di air tawar dan hanya beberapa di laut. Contoh spesies anggota Cryshophyta dalah Synura dan Mischococcus. Perhatikan Gambar 4.

Chrysophyta   Gambar 4: contoh spesies Cryshophyta (a) Synura dan (b) Mischococcus (Abdurahman, 2006).


  • Bacillariophyta (Diatom)

Filum ini memiliki anggota yang paling banyak, yaitu sekitar 10.000 spesies. Diatom termasuk alga uniseluler dan merupakan penyusun fitoplankton, baik di perairan tawar maupun di lautan.

Bentuk Diatom sangat khas (Gambar 5) dengan dinding tubuhnya yang terdiri atas kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Antara kotak dan tutup tersebut terdapat celah yang disebut rafc. Dinding selnya mengandung pectin dan silikat. Apabila mati, cangkangnya akan bertumpuk membentuk tanah diatom, tanah ini bernilai ekonomis tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan penggosok, penyuling gasoline, bahan pembuatan jalan, sampai bahan dinamit. Diatom sering tampak bergerak maju mundur dan berputar.

Bacillariophyta (Diatom)

Gambar 5: Macam-macam bentuk Diatom (Abdurahman, 2006).


  • Pyrophyta (Dinoflagellata)

Dinoflagellata diberi nama demikian karena pergerakannya dibantu dua flagella mirip cambuk (dalam bahasa latin, dino artinya pasaran air). Beberapa Dinoflagellata ditutup oleh membrane sel, sedangkan yang lainnya ada yang ditutupi oleh dinding selulosa, seperti halnya sel pada tumbuhan. Walaupun beberapa jenis Dinoflagellata hidup di air tawar, umumnya Dinoflagellata hidup di lautan, contohnya Ceratium sp. Perhatikan Gambar 6.

Pyrophyta (Dinoflagellata)

Gambar 6: Ceratium sp (Abdurahman, 2006).


  • Rhodophyta (Alga Merah)

Rhodophyta atau alga merah merupakan phylum yang memiliki pigmen dominan fikoeritrin atau merah. Phylum ini memiliki anggota yang banyak, yaitu sekitar 4.000 spesies. Rhodophyta habitatnya sebagaian besar di laut. Akan tetapi, ada pula yang hidup di perairan tawar. Perkembangbiakan Rhodophyta terjadi secara aseksual dan seksual. Secara aseksual, Rhodohyta membentuk tetraspora yang akn menjadi gamet membentuk gamet jantan dan gamet betina. Adapun secara seksual, flagella dan disebut spermatium. Adapun gamet betinanya berflagela. Perhatikan Gambar 7.

Rhodophyta (Alga Merah)

Gambar 7: Alga Merah (Rhodopyta) (Firmansyah dkk, 2006).


  • Phaeophyta (Alga Cokelat)

Phylum Phaelophyta adalah alga yang memiliki anggota cukup banyak, yaitu sekitar 1.500 spesies. Hampir semua anggotanya adalah multiseluler dan sebagian besar hidupnya di laut. Hanya beberapa jenis saja yang hidup di perairan tawar. Pigmen yang paling dominant pada Phaeophyta adalah fukosantin atau warna cokelat.

Perkembangbiakan Phaeophyta dapat terjadi secara aseksual dan seksual. Secara aseksual, Phaeophyta berkembang biak dengan membentuk zoospore. Untuk perkembangbiakan secara seksual, Phaeophyta menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Contoh dari laga cokelat adalah Sargassum, Fucus, dan Turbinaria. Perhatikan Gambar 8.

(a)                                     (b)                                        (c)

Phaeophyta (Alga Cokelat)

            Gambar 8 : (a) Sargassum (b) Fucus (c) Turbinaria.


  • Chlorophyta (ganggang hijau)

Ganggang hijau atau Chlorophyta memiliki pigmen dominant berupa klorofil dengan jenis klorofil a dan klorofil b. Klorofil b tidak dimiliki oleh jenis ganggang lain. Selain klorofil, ganggang hijau ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Ganggang hijau uniseluler ada yang memilik flagellum sehingga dapat bergerak. Ganggang hijau memiliki dinding sel yang tersusun dari selulosa dengan cadangan makanan berupa amilum.

Sebagain besar ganggang hijau hidup di air tawar, misalnya kolam dan genangan air, serta di tempat-tempat lembab. Jenis ganggang lainnya hidup di laut dangkal , contohnya Ulva. Ganggang hijau berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri, pembentukan spora, dan fragmentasi. Ganggang hijau berkembang biak secara isogami, anisogami, atau oogami. Ganggang hijau diperkirakan berjumlah 7.000 spesies (Firmansyah dkk, 2006).


3. Protista Mirip Hewan

Sekitar 65 ribu jenis protista yang menyerupai hewan atau lebih dikenal dengan istilah protozoa. Protista yang menerupai hewan karena uniseluler, heterotrofik, dan merupakan cikal bakal hewan yang lebih kompleks.

Protozoa yang sudah teridentifikasi berjumlah lebih dari 60 ribu jenis spesies. Jenis Protozoa yang sangat beragam  tersebut dapat dibedakan menjadi empat kelas berdasarkan alat geraknya, yaitu Rhizopoda, Ciliata, Flagellata, dan Sporozoa.


  • Rhizopoda

Bergerak dengan penjuluran sitoplasma selnya yang membentuk pseudopodia (kaki semu). Bentuk pseudopodia sangat bergam, ada yang tebal membulat dan ada yang tipis meruncing.pseudopodia berfungsi sebagai alat gerak dan memangsa makanan. Hewan ini ada yang bercangkang, contohnya Globigerina dan ada yang telanjang, contohnya Amoeba proteu. Rhizopoda berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan biner. Pada kondis lingkungan yang tidak menguntungkan, misalnya kekeringan, Rhizopoda tertentu dapat beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya dengan membentuk kista.

Rhizopoda umumnya hidup bebas di tanah yang lembab dan lingkungan berair, baik di darat maupun di laut. Rhizopoda bersifat heterotrof dengan memangsa alga uniseluler, bakteri, atau protozoa lainnya (Aryulina dkk, 2006).


  • Ciliata (Ciliophora)

Bergerak dengan menggunakan silia (rambut getar). Selain berfungsi untuk bergerak silia juga merupakan alat Bantu untuk makan. Silia membantu pergerakan makanan ke sitostoma. Makanan yang terkumpul di sitostoma akan dilanjutkan ke dalam sitofaring (kerongkongan sel). Apabila telah penuh, makanan akan masuk ke sitoplasma dengan membentuk vakuola makanan.

Sel CIliata memiliki cirri khusus lain, yaitu memiliki dua inti, yaitu makronukleus dan mikronukleus. Ciliata hidup bebas di lingkungan berair, baik air tawar maupun laut, Ciliata juga hidup di dalam tubuh hewan lain secara simbiosis maupun parasit.

Ciliata melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual, yaitu dengan pembelahan biner membujur (transversal). Reproduksi seksual dilakukan dengan konjungasi (Aryulina dkk, 2006)


  • Flagellata (Mastigophora)

bergerak dengan menggunakan bulu cambuk atau flagellum. Sebagian besar Flagellata memiliki dua flagellum ada yang di bagian belakang sel (posterior) sehingga saat bergerak seperti mendorong sel. Letak flagellum juga ada yang di bagian depan sel (anterior) sehingga saat bergerak seperti menarik sel.

Flagellata berkembeng biak secara aseksual dengan pembelahan biner membujur, misalnya pada Trypanosoma. Flagellata ada yang hidup bebas di lingkungan berair, baik air tawar maupun laut, hidup bersimbiosis, atau parasit dalam tubuh hewan (Aryulina dkk, 2006)


  • Sporozoa (Apicomplexa)

Sporozoa tidak meiliki alat gerak, seluruh jenis Sporozoa hidup sebagai parasit pada hewan atau manusia. Sporozoa melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Pergiliran reproduksi aseksual dan seksualnya kompleks, dengan beberapa perubahan bentuk serta membutuhkan dua atau lebih inang. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara pembelahan biner. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet dan dilanjutkan dengan penyatuan gamet jantan dan betina Firmansyah dkk, 2006)


Reproduksi Protista

Berikut ini terdapat beberapa reproduksi protista, antara lain sebagai berikut:

Seksual, reproduksi secara seksual dilakukan dengan cara konjugasi atau singami. pada umumnya reproduksi seksual dilakukan ketika protista berada dalam lingkungan yang berbahaya.

Aseksual, merupakan reproduksi yang paling umum dilakukan oleh kelompok protista. Jenis reproduksi yang sering dilakukan ialah dengan membelah diri atau melalui pembelahan mitosis untuk menghasilkan individu baru.


Klasifikasi Protista

Secara umum, menurut cara memperoleh makanannya, protista dapat dibagi menjadi:

  1. Fotoautotrof, yang dapat membuat senyawa organik kompleks dari molekul organik sederhana menggunakan energi cahaya, misalnya Chlorophyta dan Phaeophyta.
  2. Heterotrof, yang tidak dapat mengubah molekul anorganik menjadi organik sehingga memerlukan makanan organik dari lingkungannya dengan memakan organisme lain, misalnya Rhizopoda dan Oomycotina.

Peranan Protista Bagi Kehidupan

Protista memiliki peranan bagi kehidupan. Peran tersebut dapat menguntungkan dan juga dapat merugikan. Berikut akan diuraikan mengenai peranan protista bagi kehidupan.


  1. Peran Protista yang Merugikan

Anggota Protista ada yang merugikan, contohnya pada Protozoa. Sebagaian besar anggota Protozoa merupakan pathogen pada manusia dan hewan, contohnya phylum Rhizopoda. Pernahkah anda mengalami diesntri? Disentri merupakan suatu penyakit dengan gejala buang air besar bercampur lender. Penyebabnya adalah Entamoeba dysentriae. Contoh lainnya, yaitu Entamoeba histolitica yang menyebabkan amebiasis.

Phylum lainnya adalah Zoomastigophora. Anggota phylum ini umumnya pathogen. Contoh dari phylum Zoomastigophora adalah Trichomonas vaginalis yang menyebabkan penyakit kelamin pada wanita. Leishmania tropica, penyebab penyakit kulit dan Trypanosoma gambiense, penyebab penyakit tidur (Abdurahman, 2006).


  1. Peran Protista yang Menguntungkan

Selain dapat merugikan, Protista ada yang menguntungkan. Umumnya dari kelompok alga. Sebagai Protista yang mirip tumbuhan, alga merupakan produsen bagi organisme lain di suatu ekosistem, khususnya di ekosistem perairan.

Selain itu, alga juga memilik peran yang bermanfaat bagi organisme lain. Contohnya, sebagai bahan pangan, bahan obat-obatan, dan bahan dasar kosmetika, selain itu, alga juga dapat dibudidayakan menjadi bahan dasar berbagai macam produ, seperti makanan dan bahan-bahan kosmetik (Abdurahman, 2006).


Daftar Pustaka:

  • Aryulina, Diah, dkk, 2006, BIOLOGI Jilid 1, Jakarta, Penerbit ESIS.
  • Firmansyah, Rikky, dkk, 2006, Mudah dan Aktif Belajar Biologi, Bandung, Penerbit PT Grafindo Media Pratama.
  • Abdurahman, Deden, 2004, Biologi Kelompok Pertanian, Bandung, Penerbit PT Grafindo Media Pratama.
  • Kristinah, Idun. 2009. Biologi 1 Makhluk Hidup dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
  • Solomon, Eldra. 2008. Biology, Eighth Edition. Belmont : Thomson Brooks/Cole
  • Sulistyorini, Ari. 2009. Biologi 1 : Untuk Sekolah menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
  • Yani, riana dkk. 2009. Biologi I Kelas X SMA & MAS. Jakarta : Pusat Perbukuan, Depdiknas

Demikian Pembahasan Materi Mata Pelajaran Biologi Tentang Pengertian Protista, Ciri, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan dari Bukuipa

Semoga Bermanfaat Bagi Siswa dan Siswi


Baca Artikel Lainnya: